Langsung ke konten utama

Postingan

Masa SMA (Cerpen)

Pagi ini ketika memasuki lingkungan sekolah, keadaan sekitar masih sepi. Aku sengaja berangkat pagi-pagi sekali agar tidak berpapasan dengan siswa lain. Dengan senyum tipis aku menyapa pak satpam yang sedang bertugas, kemudian berlalu menuju kelas.  Aku mengeluarkan buku bersampul hitam yang terlihat lusuh, membukanya pada halaman kosong, ku biarkan tanganku menari indah di atasnya, meluapkan isi kepala lewat perantara tinta hitam, mengungkapkan segala sesuatu yang tersimpan di benak.   Tuhan, kenapa dunia seolah begitu kejam kepadaku, dulu aku kira, begitu memasuki masa SMA kehidupanku akan perlahan-lahan berubah, tapi nyatanya sama saja. Bahkan keadaan menjadi lebih buruk melampaui pikiranku saat itu.  Dulu, aku ingat sekali, seseorang pernah berkata kepadaku. Bahwa kehidupan SMA adalah masa-masa paling indah. Tapi kenyatanya ucapan itu hanya angin lalu, bahkan sekadar teman bicara pun aku tidak punya. Aku sendiri juga tidak mengerti, kenapa mereka menjadikanku mus...

Merelakan (Cerpen)

Pukul dua siang di depan gerbang sekolah kawasan Jakarta Selatan. Aku menunggu dia lebih dari satu jam. Beberapa menit berlalu, namun dia tak kunjung keluar. Kedua tanganku mulai pegal karena sedari tadi menumpu buket bunga dan kue ulang tahun. Aku Sengaja datang jauh-jauh dari Bandung ke Jakarta untuk memberi kejutan. Aku meletakkan kue dan juga buket bunga kedalam mobil, memutuskan menghubungi salah satu sahabatnya karena nomornya tidak aktif sejak pagi. "Cha, Lisa masuk sekolah gak?" Tanyaku melalui telepon, menanyakan kabar Lisa-kekasihku melalui sahabatnya, Icha. "Masuk kok, memang kenapa?" "Suruh ke luar sebentar, dong aku di depan gerbang sekolah kalian" ucapku sambil menatap kue dan juga buket bunga di jok belakang. "Bentar," Jawabnya, samar-samar terdengar suara Lisa juga beberapa laki-laki, mungkin teman sekelas mereka. "Gimana?" Tanyaku penasaran, sedikit lega karena mendengar suara Lisa yang tampak baik-baik saja, wal...

Mimpi indah, Arum (Cerpen)

Bau harum yang menenangkan, deretan rak buku yang menjulang tinggi memanjakan mata para pengunjungnya. Beberapa orang terlihat berlalu lalang membawa buku pilihannya, beberapa juga sudah tenggelam dalam bacaannya, satu dua orang terlihat masih mencari buku untuk di baca. Sedangkan beberapa lainnya tengah berdiskusi santai.  Seorang wanita tersenyum puas saat menyaksikan itu semua. Pemandangan yang menyenangkan, batinnya. Setelah agak lama, wanita itu beranjak menuju aula untuk melakukan wawancara mengenai backround perpustakaan. Ruangan sudah tampak rapih dengan beberapa cameraman. Wanita tersebut menarik nafas panjang dan kemudian berjalan anggun ke tempat yang di sediakan.  "Bisa kita mulai sekarang bu?" Tanya host wawancara.  Wanita tersebut mengangguk di sertai dengan senyuman tipis di wajahnya.  "Selamat siang semuanya, hari ini kami bersama dengan ibu Salma, pendiri perpustakaan Cahaya Kota." Ucap sang host acara tersebut. "Selamat siang ibu Salma."...

Naskah drama pembullyan - memory

Naskah drama pembullyan - Memory Sekar, gadis pintar yang selalu menjadi bahan Bully geng-geng nakal di sekolah, sifatnya yang ceria dan baik hati lama-kelamaan berubah menjadi pendiam dan penakut, hal ini terjadi akibat dampak dari pembullyan yang di alaminya.  Nilainya yang semakin hari semakin menurun, tingkat kecemasan yang tinggi hingga berujung depresi. Suatu ketika ia juga merasa seakan ada yang membisikkan untuk bunuh diri.  Hari-hari menyeramkan di sekolahnya bermula pada saat ia memasuki kelas XII, di sanalah kisah ini di mulai.  ________________________________________ Nama saya Sekar dari kelas XII Farmasi 2 dan ini kisah masa sekolah saya . ( Maju ke depan panggung)  Suasana pagi tampak begitu menyegarkan, hembusan angin lembut dan pancaran sinar hangat matahari berhasil menghilangkan kabut di sekitar kawasan sekolah.  Koridor masih tampak sepi, baru satu dua siswa yang berlalu lalang. Masih terlalu pagi untuk adanya kekacauan di sekolah.  XII ...

Awal masuk sekolah

  Ilustrasi lapangan (Pexels.com/Alfin auzikri) Cerpen - Pertemuan Altha, Ian, dan Zaynal part 2 S atu Minggu berlalu sejak Altha bertemu dengan dua santri baru 'aneh' itu, dan untungnya ia belum bertemu lagi dengan mereka sampai saat ini. Pagi ini masa Mos MA Aliyah Assalam di buka, para murid baru berbondong bondong berangkat pagi-pagi sambil membawa barang yang di tentukan. Mereka terlihat antusias sekali untuk masuk sekolah, sangat berbeda dengan Altha yang masih bermalas-malasan di kasur. "Al bangun, berangkat sekolah cepet." Teriak umi Fadhilah keras, menggedor pintu kamar anaknya. Altha keluar kamar dengan wajah lusuh. "Umi, Altha baru aja pulang dari ndalem kakek, baru juga selesai setoran dan ngaji, baru tiduran di kasur, dan Altha juga belum sempat tidur dari tadi." Jelas Altha panjang lebar. Umi tertawa pelan mendengar penuturan Altha. "Yaudah sekarang kamu mandi, abis itu berangkat sekolah, seragamnya udah umi setrika intinya harus beran...

Gerbang pondok

Cerpen - pertemuan Altha, Ian, dan Zaynal Gambar : pinterest H ari itu , Pondok pesantren Assalam ramai dengan para santri baru, padahal sudah lewat satu Minggu pemberangkatan para santri, namun masih saja banyak yang berdatangan telat.  Altha duduk santai di ruang keluarga dengan tenang, sibuk bermain game di handphone. Beberapa hari belakangan ia jarang keluar rumah karena malas bertemu dengan santri dari pondok kakeknya. Mereka selalu saja mencari permasalahan. "Altha, sini bantuin umi bentar." Teriak sang ibu dari dapur. Altha menoleh sebentar, lantas lanjut bermain game. "Bentar umi Altha lagi main game." "Altha sana bantuin umi, kasian ituloh lagi buat kue sendirian!" Sahut seseorang dari belakang Altha, menyambar handphone yang di pegang laki-laki itu. Altha menatap tajam Abahnya. "Abah ish, bentar lagi lah Altha lagi main game." Ujar Altha sedikit kesal. "Al, ibu kamu lagi minta bantuan ituloh. Masa kamu enggak mau bantuin, wah...

Cerpen - Tresno kang Amerta

  Sejuknya udara sore hari, dengan langit biru yang bergradasi jingga membuatku betah berlama-lama di luar pondok, menyusuri jalan setapak seorang diri. Mengaji di luar lingkungan pondok merupakan kesenangan sendiri bagiku, walau harus pulang-pergi sendirian.  "Soreee Fatimah, abis pulang ngaji yah?" Terdengar seruan begitu keras dari arah belakang, sapaan yang sudah terdengar familiar di telinganku. Tanpa menggubris sapaan tersebut aku langsung mempercepat jalan.  "Jangan cuek-cuek dong fat, apa salahnya sih jawab sapaan aku." ucapnya lagi, menjajarkan langkah kakiku. Aku berhenti sejenak, menundukkan pandangan serendah mungkin. "Sore bang Galang," ucapku datar.  "Dih masa kek gitu jawab sapaanya, gak ikhlas," ucap Galang dengan senyum tertahan.  "Bukan gak ikhlas tapi emang bukan muhrim," aku menjawab masih dengan menundukkan pandangan.  "Ouh gitu, kalo gitu gimana caranya biar kita jadi muhrim," tanya Galang penasaran.  Ref...