Kau pikir begitu sulit untuk melupakanmu? Sialnya, itu benar Aku memaki diriku sendiri, Yang bodohnya terpikat oleh sosokmu Menyesal bertemu denganmu? Tidak juga Menyesal menaruh hati padamu? Mungkin saja Apakah kau sungguh menawan? Tidak juga Apakah aku yang terlalu mudah terlena? Mungkin saja, jawaban sempurna Tidak ada keindahan yang menonjol dalam dirimu Hanya saja, mataku tertutup kabut kala itu Membutuhkan sandaran juga menjadi alasanku Sialnya, kau meninggalkan noda yang cukup sulit hilang pada bajuku
Jika kau bertanya seberapa penting dirimu? Maka tidak lebih penting dari secangkir kopi hitamku Sepasang kertas dan pena di meja belajarku Juga seputar lagu yang menemani kala suntukku Sejak awal posisimu tidak lebih dari itu Sejak awal kau memang berada di luar batas itu Maka, berhentilah merayuku Sebab tak sekalipun aku melihat keberadaanmu Sudah terlalu nyaman bagiku berada dalam pelukan malam Menghabiskan waktu bersama kesunyian, menciptakan kedamaian Mendiskusikan banyak perihal masa depan Dan merangkai alur cerita kehidupan