Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2023

Naskah drama pembullyan - memory

Naskah drama pembullyan - Memory Sekar, gadis pintar yang selalu menjadi bahan Bully geng-geng nakal di sekolah, sifatnya yang ceria dan baik hati lama-kelamaan berubah menjadi pendiam dan penakut, hal ini terjadi akibat dampak dari pembullyan yang di alaminya.  Nilainya yang semakin hari semakin menurun, tingkat kecemasan yang tinggi hingga berujung depresi. Suatu ketika ia juga merasa seakan ada yang membisikkan untuk bunuh diri.  Hari-hari menyeramkan di sekolahnya bermula pada saat ia memasuki kelas XII, di sanalah kisah ini di mulai.  ________________________________________ Nama saya Sekar dari kelas XII Farmasi 2 dan ini kisah masa sekolah saya . ( Maju ke depan panggung)  Suasana pagi tampak begitu menyegarkan, hembusan angin lembut dan pancaran sinar hangat matahari berhasil menghilangkan kabut di sekitar kawasan sekolah.  Koridor masih tampak sepi, baru satu dua siswa yang berlalu lalang. Masih terlalu pagi untuk adanya kekacauan di sekolah.  XII ...

Awal masuk sekolah

  Ilustrasi lapangan (Pexels.com/Alfin auzikri) Cerpen - Pertemuan Altha, Ian, dan Zaynal part 2 S atu Minggu berlalu sejak Altha bertemu dengan dua santri baru 'aneh' itu, dan untungnya ia belum bertemu lagi dengan mereka sampai saat ini. Pagi ini masa Mos MA Aliyah Assalam di buka, para murid baru berbondong bondong berangkat pagi-pagi sambil membawa barang yang di tentukan. Mereka terlihat antusias sekali untuk masuk sekolah, sangat berbeda dengan Altha yang masih bermalas-malasan di kasur. "Al bangun, berangkat sekolah cepet." Teriak umi Fadhilah keras, menggedor pintu kamar anaknya. Altha keluar kamar dengan wajah lusuh. "Umi, Altha baru aja pulang dari ndalem kakek, baru juga selesai setoran dan ngaji, baru tiduran di kasur, dan Altha juga belum sempat tidur dari tadi." Jelas Altha panjang lebar. Umi tertawa pelan mendengar penuturan Altha. "Yaudah sekarang kamu mandi, abis itu berangkat sekolah, seragamnya udah umi setrika intinya harus beran...

Gerbang pondok

Cerpen - pertemuan Altha, Ian, dan Zaynal Gambar : pinterest H ari itu , Pondok pesantren Assalam ramai dengan para santri baru, padahal sudah lewat satu Minggu pemberangkatan para santri, namun masih saja banyak yang berdatangan telat.  Altha duduk santai di ruang keluarga dengan tenang, sibuk bermain game di handphone. Beberapa hari belakangan ia jarang keluar rumah karena malas bertemu dengan santri dari pondok kakeknya. Mereka selalu saja mencari permasalahan. "Altha, sini bantuin umi bentar." Teriak sang ibu dari dapur. Altha menoleh sebentar, lantas lanjut bermain game. "Bentar umi Altha lagi main game." "Altha sana bantuin umi, kasian ituloh lagi buat kue sendirian!" Sahut seseorang dari belakang Altha, menyambar handphone yang di pegang laki-laki itu. Altha menatap tajam Abahnya. "Abah ish, bentar lagi lah Altha lagi main game." Ujar Altha sedikit kesal. "Al, ibu kamu lagi minta bantuan ituloh. Masa kamu enggak mau bantuin, wah...