Langsung ke konten utama

Postingan

Naskah drama pembullyan - memory

Naskah drama pembullyan - Memory Sekar, gadis pintar yang selalu menjadi bahan Bully geng-geng nakal di sekolah, sifatnya yang ceria dan baik hati lama-kelamaan berubah menjadi pendiam dan penakut, hal ini terjadi akibat dampak dari pembullyan yang di alaminya.  Nilainya yang semakin hari semakin menurun, tingkat kecemasan yang tinggi hingga berujung depresi. Suatu ketika ia juga merasa seakan ada yang membisikkan untuk bunuh diri.  Hari-hari menyeramkan di sekolahnya bermula pada saat ia memasuki kelas XII, di sanalah kisah ini di mulai.  ________________________________________ Nama saya Sekar dari kelas XII Farmasi 2 dan ini kisah masa sekolah saya . ( Maju ke depan panggung)  Suasana pagi tampak begitu menyegarkan, hembusan angin lembut dan pancaran sinar hangat matahari berhasil menghilangkan kabut di sekitar kawasan sekolah.  Koridor masih tampak sepi, baru satu dua siswa yang berlalu lalang. Masih terlalu pagi untuk adanya kekacauan di sekolah.  XII ...

Awal masuk sekolah

  Ilustrasi lapangan (Pexels.com/Alfin auzikri) Cerpen - Pertemuan Altha, Ian, dan Zaynal part 2 S atu Minggu berlalu sejak Altha bertemu dengan dua santri baru 'aneh' itu, dan untungnya ia belum bertemu lagi dengan mereka sampai saat ini. Pagi ini masa Mos MA Aliyah Assalam di buka, para murid baru berbondong bondong berangkat pagi-pagi sambil membawa barang yang di tentukan. Mereka terlihat antusias sekali untuk masuk sekolah, sangat berbeda dengan Altha yang masih bermalas-malasan di kasur. "Al bangun, berangkat sekolah cepet." Teriak umi Fadhilah keras, menggedor pintu kamar anaknya. Altha keluar kamar dengan wajah lusuh. "Umi, Altha baru aja pulang dari ndalem kakek, baru juga selesai setoran dan ngaji, baru tiduran di kasur, dan Altha juga belum sempat tidur dari tadi." Jelas Altha panjang lebar. Umi tertawa pelan mendengar penuturan Altha. "Yaudah sekarang kamu mandi, abis itu berangkat sekolah, seragamnya udah umi setrika intinya harus beran...

Gerbang pondok

Cerpen - pertemuan Altha, Ian, dan Zaynal Gambar : pinterest H ari itu , Pondok pesantren Assalam ramai dengan para santri baru, padahal sudah lewat satu Minggu pemberangkatan para santri, namun masih saja banyak yang berdatangan telat.  Altha duduk santai di ruang keluarga dengan tenang, sibuk bermain game di handphone. Beberapa hari belakangan ia jarang keluar rumah karena malas bertemu dengan santri dari pondok kakeknya. Mereka selalu saja mencari permasalahan. "Altha, sini bantuin umi bentar." Teriak sang ibu dari dapur. Altha menoleh sebentar, lantas lanjut bermain game. "Bentar umi Altha lagi main game." "Altha sana bantuin umi, kasian ituloh lagi buat kue sendirian!" Sahut seseorang dari belakang Altha, menyambar handphone yang di pegang laki-laki itu. Altha menatap tajam Abahnya. "Abah ish, bentar lagi lah Altha lagi main game." Ujar Altha sedikit kesal. "Al, ibu kamu lagi minta bantuan ituloh. Masa kamu enggak mau bantuin, wah...

Cerpen - Tresno kang Amerta

  Sejuknya udara sore hari, dengan langit biru yang bergradasi jingga membuatku betah berlama-lama di luar pondok, menyusuri jalan setapak seorang diri. Mengaji di luar lingkungan pondok merupakan kesenangan sendiri bagiku, walau harus pulang-pergi sendirian.  "Soreee Fatimah, abis pulang ngaji yah?" Terdengar seruan begitu keras dari arah belakang, sapaan yang sudah terdengar familiar di telinganku. Tanpa menggubris sapaan tersebut aku langsung mempercepat jalan.  "Jangan cuek-cuek dong fat, apa salahnya sih jawab sapaan aku." ucapnya lagi, menjajarkan langkah kakiku. Aku berhenti sejenak, menundukkan pandangan serendah mungkin. "Sore bang Galang," ucapku datar.  "Dih masa kek gitu jawab sapaanya, gak ikhlas," ucap Galang dengan senyum tertahan.  "Bukan gak ikhlas tapi emang bukan muhrim," aku menjawab masih dengan menundukkan pandangan.  "Ouh gitu, kalo gitu gimana caranya biar kita jadi muhrim," tanya Galang penasaran.  Ref...

Cerpen - Istirahat Abah

  Aku merasa menjadi anak yang.... Entahlah sulit menjelaskannya. Bahkan untuk sebuah kabar atas kematian ayahku sendiri, aku tidak di beri tahu. Mereka bilang alasannya aku sedang ujian. Namun apakah tidak bisa begitu aku selesai ujian, mereka langsung mengabariku. Aku mendengar kabar itu dari orang lain, bukan ibuku, bukan juga keluargaku, tetapi dari orang lain. Jika saja hari itu aku tak pergi ke kantor Putri, dan malah memutuskan untuk makan. Entah sampai berapa lama mereka menyembunyikan itu dariku.  Sore itu, selepas mengaji klasikal di aula putra. Aku tidak langsung ke dapur untuk mengambil makan. Melainkan ke kantor Putri, meminjam hp untuk menelepon rumah. Jarak antara Jawa dan Lampung memanglah jauh, aku juga belum pernah pulang sama sekali sejak pertama kali menginjakkan kaki di pesantren ini.  "Abah sama ibu pasti bakalan bangga akhirnya aku lulus, taun besok bisa pulang deh" batinku dengan senang, senyum mengembang terlihat di wajah. Aku melangkah dengan hat...