Langsung ke konten utama

Postingan

Cerpen - Tresno kang Amerta

  Sejuknya udara sore hari, dengan langit biru yang bergradasi jingga membuatku betah berlama-lama di luar pondok, menyusuri jalan setapak seorang diri. Mengaji di luar lingkungan pondok merupakan kesenangan sendiri bagiku, walau harus pulang-pergi sendirian.  "Soreee Fatimah, abis pulang ngaji yah?" Terdengar seruan begitu keras dari arah belakang, sapaan yang sudah terdengar familiar di telinganku. Tanpa menggubris sapaan tersebut aku langsung mempercepat jalan.  "Jangan cuek-cuek dong fat, apa salahnya sih jawab sapaan aku." ucapnya lagi, menjajarkan langkah kakiku. Aku berhenti sejenak, menundukkan pandangan serendah mungkin. "Sore bang Galang," ucapku datar.  "Dih masa kek gitu jawab sapaanya, gak ikhlas," ucap Galang dengan senyum tertahan.  "Bukan gak ikhlas tapi emang bukan muhrim," aku menjawab masih dengan menundukkan pandangan.  "Ouh gitu, kalo gitu gimana caranya biar kita jadi muhrim," tanya Galang penasaran.  Ref...

Cerpen - Istirahat Abah

  Aku merasa menjadi anak yang.... Entahlah sulit menjelaskannya. Bahkan untuk sebuah kabar atas kematian ayahku sendiri, aku tidak di beri tahu. Mereka bilang alasannya aku sedang ujian. Namun apakah tidak bisa begitu aku selesai ujian, mereka langsung mengabariku. Aku mendengar kabar itu dari orang lain, bukan ibuku, bukan juga keluargaku, tetapi dari orang lain. Jika saja hari itu aku tak pergi ke kantor Putri, dan malah memutuskan untuk makan. Entah sampai berapa lama mereka menyembunyikan itu dariku.  Sore itu, selepas mengaji klasikal di aula putra. Aku tidak langsung ke dapur untuk mengambil makan. Melainkan ke kantor Putri, meminjam hp untuk menelepon rumah. Jarak antara Jawa dan Lampung memanglah jauh, aku juga belum pernah pulang sama sekali sejak pertama kali menginjakkan kaki di pesantren ini.  "Abah sama ibu pasti bakalan bangga akhirnya aku lulus, taun besok bisa pulang deh" batinku dengan senang, senyum mengembang terlihat di wajah. Aku melangkah dengan hat...